Tujuh Tips Untuk Guru di Era Digital

Siswa disekolah pada era digital saat ini adalah generasi yang disebut dengan generasi digital native, sedangkan gurunya adalah generasi digital immigrant. Tentunya ada banyak perbedaan signifikan dari dua generasi ini. Perbedaanya tidak hanya terletak pada bagaimana penguasaan dan pemanfaatan teknologi digital saja, namun cara berfikir dan bertindak mereka juga sangat berbeda.

Ada banyak hal yang perlu diperhatikan oleh para guru dalam menghadapi siswa-siswa merka saat ini.Berikut adalah tujuh strategi yang akan membantu Anda menjadi guru yang lebih baik di era digital yang dikemukakan oleh Don Tapscott.

  1. Jangan menyajikan teknologi ke dalam kelas lalu berharap hal-hal yang baik akan muncul dengan sendirinya.

Fokus pada perubahan pedagogi, bukan teknologi. Pembelajaran 2.0 adalah tentang mengubah secara dramatis hubungan antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran bukan sekedar menerapkan teknologi terbaru. Persiapkan pembelajaran dengan benar dan gunakan teknologi untuk menghadirkan lingkungan belajar yang kolaboratif,  sesuai kebutuhan, dan berfokus pada siswa.

  1. Kurangi metode ceramah.

Guru tidak memiliki semua jawaban atas semua masalah. Selain itu, pembelajaran ceramah kurang efektif untuk generasi milenial ini. Mulai ajukan pertanyaan kepada siswa dan dengarkan jawaban mereka. Dengarkan juga pertanyaan yang diajukan siswa. Biarkan mereka menemukan jawabannya. Biarkan mereka memperoleh pengalaman belajar bersama dengan gurunya maupun dengan siswa lain.

  1. Dorong siswa untuk melakukan kolaborasi.

Dorong mereka untuk bekerja antara satu sama lain dan tunjukkan kepada mereka cara mengakses sumber-sumber belajar yang tersedia di internet.

  1. Fokus pada pembelajaran sepanjang hayat, bukan mengajarkan untuk ujian.

Yang penting bukan apa yang mereka ketahui ketika mereka lulus, melainkan kapasitas dan cinta mereka pada pembelajaran sepanjang hayat yang lebih utama. Jangan khawatir jika anak-anak melupakan tanggal-tanggal pertempuran kunci dalam sejarah. Mereka bisa mencarinya. Berfokuslah untuk mengajari mereka cara belajar dan terus belajar, bukan apa yang harus diketahui.

  1. Gunakan teknologi untuk mengenal setiap siswa dan membangun program pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan serta karakteristik siswa.

Pilih teknologi yang efisien, murah, dan mudah akses oleh siswa. Sesuaikan konten teknologi tersebut sesuai dengan kebutuhan serta karakteristik siswa. Perhatikan muatan-muatan lokal yang penting untuk dijiwai oleh para siswa.

  1. Rancang program pembelajaran berdasar delapan norma.

Dalam program pembelajaran harus ada pilihan, penyesuaian, transparansi, integritas, kolaborasi, hiburan, kecepatan, dan inovasi.. Manfaatkan kekuatan budaya dan perilaku Net Gen dalam pembelajaran berbasis proyek.

  1. Temukan kembali diri Anda sebagai guru atau pendidik.

Anda pun dapat berkata, “Sekarang, saya tidak sabar menunggu bangun pagi untuk pergi bekerja!”. Ada ungkapan yang menarik “mengajar itu mencari telur atau mencari kue?”. Mencari telur dalam ungkapan itu adalah ibarat beribadah dengan mengamalkan ilmu untuk diteruskan oleh generasi penerus yang suatu saat akan menetas dan terus mengembangkan ilmu demi generasi selanjutnya. Mencari kue dimaksudkan adalah lebih mementingkan materi atau dunia, sedangkan sifat materi ini adalah cepat habis sesuai dengan sifat kue yang cepat bau kalau tidak segera dimakan. Temukan jati diri Anda sebagi guru sejati yang selalu mempunyai semangat membara.

 

(Muhammad Abdul Ghofur:  disarikan dari “grown up digital”)